<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nasehat Islam</title>
	<atom:link href="http://www.nasehatislam.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.nasehatislam.com</link>
	<description>Kumpulan Artikel Nasehat Islami</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Sep 2010 06:23:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tata Krama Bertamu dan Menghormati Tamu</title>
		<link>http://www.nasehatislam.com/?p=884</link>
		<comments>http://www.nasehatislam.com/?p=884#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 06:02:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nasehatislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bertamu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nasehatislam.com/?p=884</guid>
		<description><![CDATA[Tamu bertamu merupakan tradisi yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan keseharian. Menghormati tamu dalam ajaran Islam merupakan sebuah kewajiban. Seperti hal yang kewajiban yang lainnya, jika dilaksanakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan akan mendapatkan dosa. Batas kewajian menghormati tamu adalah 3 hari, selebihnya menjadi shodaqoh.
Landasan kewajiban menghormati tamu ada dalam QS 51 ayat 24-27, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter size-full wp-image-887" title="bertamu" src="http://www.nasehatislam.com/wp-content/uploads/2010/09/bertamu.jpg" alt="bertamu" width="117" height="124" />Tamu bertamu merupakan tradisi yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan keseharian. Menghormati tamu dalam ajaran Islam merupakan sebuah <strong>kewajiban</strong>. Seperti hal yang kewajiban yang lainnya, jika dilaksanakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan akan mendapatkan dosa. Batas kewajian menghormati tamu adalah <strong>3 hari</strong>, selebihnya menjadi shodaqoh.</p>
<p><span id="more-884"></span>Landasan kewajiban menghormati tamu ada dalam QS 51 ayat 24-27, dan hadits nabi yang menyatakan bahwa tanda keimanan seseorang kepada Alloh dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya.</p>
<p>Beberapa catatan terkait dengan tata krama menghormati tamu adalah sebagai berikut:</p>
<p>#1. Saat tamu memberi salam dan memasuki rumah, hendaknya tuan rumah menjawab salam dengan cepat dan mengizinkan tamu masuk rumah.  Sertailah senyuman dan raut muka yang hangat. Jangan menerima tamu dengan rasa terpaksa, sebaliknya harus ikhlas dan lapang dada.</p>
<p>#2. Berilah suguhan makan atau minum terbaik dengan sembunyi, tanpa ketahuan tamunya. Nabi Ibrahim mencontohkan saat menerima tamu, ia mengambil dan memasak kambing muda kesukaannya, lalu menyuguhkan ke tamunya.   </p>
<p>#3. Melayani tamu dengan baik dan perkataan yang lemah lembut. Mendekatkan makanan ke depan tamu. Hindari tamu datang untuk mengambil makanan itu.</p>
<p>Jika menjadi tamu, dianjurkan tidak memberatkan orang yang akan dikunjung. Nabi bersabda, <em>&#8220;Tidak halal seorang muslim tinggal di saudaranya, sehingga saudaranya berdosa&#8221;</em>. Maksudnya orang yang dikunjungi tidak bisa memberikan sesuatu yang terbaik kepada tamu, karena ia tidak punya apa-apa untuk disuguhkan.</p>
<p>Hal lain yang dianjurkan saat dijamu makanan oleh tuan rumah, seorang tamu hendaklah mendo&#8217;a tuan rumah, dengan kalimat: &#8220;<em>Ya Alloh berikanlah keberkahan dari rizki yang telah Engkai berikan kepadanya, ampunilah dan sayangilah mereka&#8221;</em>.</p>
<p><em>Kultum, Mesjid PT. Toyota Astra Motor, 2 September 2010</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nasehatislam.com/?feed=rss2&amp;p=884</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>10 Hari Terakhir Sebagai Puncak Ibadah Romadhan</title>
		<link>http://www.nasehatislam.com/?p=870</link>
		<comments>http://www.nasehatislam.com/?p=870#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 06:01:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nasehatislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puasa Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nasehatislam.com/?p=870</guid>
		<description><![CDATA[Tak terasa kita telah berada di hari yang ke 21 Romadhan. Kita telah memasuki puncak ibadah romadhan. Seperti halnya sahabat di zaman rosul, semangat ibadah di akhir Romadhan seyogyanya lebih ditingkatkan dibanding di di awal Romadhan.
 
Aisyah r.a. menyatakan bahwa saat memasuki 10 hari terakhir, rosululloh selalu menghidup-hidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, serta menguatkan ikat pinggangnya. Ini berarti kita dianjurkan untuk mengoptimalkan ibadah baik siang maupun malam. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter size-full wp-image-873" title="Ramadhan_Mubarak" src="http://www.nasehatislam.com/wp-content/uploads/2010/08/Ramadhan_Mubarak.gif" alt="Ramadhan_Mubarak" width="114" height="124" />Tak terasa kita telah berada di hari yang ke 21 Romadhan. Kita telah memasuki <strong>puncak ibadah romadhan</strong>. Seperti halnya sahabat di zaman rosul, semangat ibadah di akhir Romadhan seyogyanya lebih ditingkatkan dibanding di di awal Romadhan.</p>
<p style="text-align: left;"> </p>
<p><span id="more-870"></span>Aisyah r.a. menyatakan bahwa saat memasuki 10 hari terakhir, rosululloh selalu menghidup-hidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, serta menguatkan ikat pinggangnya. Ini berarti kita dianjurkan untuk mengoptimalkan ibadah baik siang maupun malam. 10 hari terakhir Romadhan akan memiliki makna besar dan pengaruh dalam 11 bulan berikutnya, jika kita bisa mengoptimalkannya.</p>
<p>Setidaknya ada 3 perkara yang perlu kita perhatikan dalam rangka mengoptimalkan 10 hari terakhir Romadhan, yaitu sebagai berikut:</p>
<p><strong>#1. Memberikan perhatian terhadap bekal ruhiah</strong></p>
<p>Manusia terdiri dari dua unsur, yakni fisik dan ruhani. Kehormatan manusia terletak seberapa tinggi derajat ruhaniahnya. Malaikat diperintahkan sujud kepada manusia, setelah Alloh meniupkan ruh pada manusia. Untuk itu bekalilah ruhaniah kita dengan sebaik-baiknya agar bisa memberikan pengaruh dan kekuatan hidup di masa mendatang. Kunci sukses rosul dalam mengemban misi kerosulan adalah karena kekuatan bekal spritualnya. Tidak ringkih dalam memperbanyak ibadah kepada Alloh.</p>
<p> <strong>#2. Memiliki Perasaan Takut akan Dosa</strong></p>
<p>Nabi berpesan saat memasuki <em>lailatul qodar</em> memohonlah ampun kepada Alloh. Kita diajarkan untuk sadar akan dosa yang telah dilakukan sebelum meminta apapun yang diinginkan. Jika hal ini dilakukan, niscaya hidup kita akan lebih baik. Takut akan dosa dan tidak melakukan kejahatan. Karena dosa adalah beban dunia dan akhirat.</p>
<p><strong>3.  Memberikan Perhatian terhadap Pahala yang Disediakan</strong></p>
<p>Hidupkan 10 hari terakhir Romadhan untuk menggapai pahala Alloh.  Jadikan surga sebagai obsesi terbesar yang ingin diraih dalam hidup ini. Diam diri sejenak untuk merenungi kehidupan, tambahkan bahan bakar spiritual, serta luruskan kompas hidup menuju arah ridho Alloh SWT.</p>
<p><em>Kuliah Tarawih, 29 Agustus 2010, Mesjid Darussalam Kita Wisata Cibubur, Narasumber: Muhammadud Abdul Hamid MA</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nasehatislam.com/?feed=rss2&amp;p=870</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Si Kaya dan Si Miskin Memiliki Peluang Sama Untuk Masuk Surga</title>
		<link>http://www.nasehatislam.com/?p=862</link>
		<comments>http://www.nasehatislam.com/?p=862#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2010 05:53:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nasehatislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fakir-Miskin-Yatim]]></category>
		<category><![CDATA[Shadaqoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nasehatislam.com/?p=862</guid>
		<description><![CDATA[Dikisahkan, di suatu negeri pernah hidup orang yang kaya dan taat beribadah. Mesti kaya, orang ini tidak sombong dan membanggakan kekayaannya. Ia sangat rajin membangun rumah ibadah, menyantuni anak yatim, membantu kerabat, tetangga, orang miskin, dan kegiatan sosial lainnya. Saat musim paceklik tiba, ia selalu membagi-bagikan kebutuhan pangan kepada orang yang membutuhkan. Salah seorang yang sering ia bantu ialah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter size-full wp-image-867" title="kaya dermawan" src="http://www.nasehatislam.com/wp-content/uploads/2010/08/kaya-dermawan.jpg" alt="kaya dermawan" width="117" height="124" />Dikisahkan, di suatu negeri pernah hidup orang yang kaya dan taat beribadah. Mesti kaya, orang ini tidak sombong dan membanggakan kekayaannya. Ia sangat rajin membangun rumah ibadah, menyantuni anak yatim, membantu kerabat, tetangga, orang miskin, dan kegiatan sosial lainnya. Saat musim paceklik tiba, ia selalu membagi-bagikan kebutuhan pangan kepada orang yang membutuhkan. Salah seorang yang sering ia bantu ialah seorang tetangga miskin.</p>
<p><span id="more-862"></span>Saat orang kaya ini meningal dunia, ini masuk surga. Tanpa terduga, ia bertemu dengan tetangga miskin yang selalu disantuninya saat di dunia. Dengan rasa heran, orang kaya ini berkata,<em> &#8221;Sungguh tak menduga bisa bertemu anda di surga ini&#8221;,</em> Orang miskin menjawab, &#8221;<em>Kenapa tidak, bukannya Alloh memberi surga kepada siapa saja yang dikehendakinya. Alloh maha pengasih kepada semua hamba-Nya tanpa pandang kaya atau miskin&#8221;</em>. Si kaya balik bertanya, <em>&#8220;Amalan apakah yang bisa memasukkan anda ke surga?&#8221;</em>, Si miskin menjawab, <em>&#8220;Saya mendapat pahala menyantuni anak yatim, kaum kerabat, tetangga, dan kegiatan sosial lainnya sama seperti yang anda dapatkan&#8221;.</em> <em></em></p>
<p>Orang kaya bertanya sambil heran, <em>&#8220;Bagaimana mungkin anda mendapatkan pahala seperti yang saya dapatkan, bukannya kamu orang miskin?</em>. Si miskin menjawab lagi, <em>&#8220;Memang benar saya orang miskin, namun saat di dunia saya sering berdoa, Seandainya saya diberi kekayaan sama seperti engkau, saya berniat membantu orang miskin, anak yatim, kaum kerabat dan kegiatan sosial lainya. Namun, saya ditakdirkan menjadi orang miskin, dan saya iklas dan sabar menerimanya&#8221;.</em></p>
<p>Kisah di atas kelihatan seperti rekayasa dan sulit dibuktikan karena menyangkut hal gaib, siapa yang pernah dan kembali dari surga. Namun saat ditelusuri merujuk hadits nabi, kisah di atas mengandung kebenaran.  Ada dua golongan manusia terkait dengan kepemilikan atas harta dan cara menggunakannya yakni:</p>
<p><strong>#Golongan Pertama,</strong> Orang yang diberikan ilmu agama dan harta melimpah. Ia bertaqwa kepada Alloh melalui ilmu dan harta. Orang ini mendapat tempat utama di sisi Alloh<br />
<strong>#Golongan Kedua,</strong>  Orang yang diberikan ilmu agama tetapi miskin. Dia berniat dengan jujur, andai diberi kekayaan, ia akan berbuat sama seperti orang kaya. Orang ini dengan niat saja, di sisi alloh mendapat pahala yang sama.</p>
<p>Pelajaran yang bisa kita ambil, saat diberi nikmat kaya oleh Alloh, hendaklah menjadi orang dermawan dan tidak sombong. Lengkapi diri dengan ilmu dan pemahaman agama dengan baik. Gunakan harta sebaik-baiknya sehingga memberikan manfaat dan berkah untuk banyak orang. Tumbuhkan kesadaran, bahwa sesungguhnya harta akan ditanya Alloh dari dua sisi. Dari mana memperolehnya dan kemana saja harta itu digunakan. Niscaya, akan mendapat kedudukan tertinggi dari Alloh SWT.</p>
<p>Sebaliknya, jika kita ditakdirkan menjadi orang miskin, tetap juga harus berusaha memiliki ilmu agama dengan baik sampai akhir hayat. Niatkan dengan jujur dan bulat untuk menjadi orang yang dermawan kepada orang yang membutuhkan. Niscaya, Alloh tidak akan menyia-nyiakan niat baik ini. Dan akan mendapat kedudukan tinggi di hadapan Alloh.</p>
<p><em>Kuliah Tarawih, Mesjid Darussalam Kota Wisata, 29 Agustus 2010, Narasumber: Drs. Israr Nawawi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nasehatislam.com/?feed=rss2&amp;p=862</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Menyantuni Fakir, Miskin, dan Yatim</title>
		<link>http://www.nasehatislam.com/?p=851</link>
		<comments>http://www.nasehatislam.com/?p=851#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 09:08:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nasehatislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fakir-Miskin-Yatim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nasehatislam.com/?p=851</guid>
		<description><![CDATA[Islam adalah agama yang mengatur hidup dan kehidupan manusia. Salah satu ajarannya adalah memberikan jaminan kepada mereka yang membutuhkan biaya atau nafkah dengan cara menyantuninya. Bukan hanya  memberi harta namun juga memberikan perhatian dan jaminan kehidupan.
Alloh sangat mencela orang yang tidak memperhatikan kaum fakir, miskin dan anak yatim, serta menghalangi orang untuk menolongnya.
Menolong masayarakat bawah sebagaimana dianjurkan dalam ayat al-Quran merupakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter size-full wp-image-855" title="berbagi" src="http://www.nasehatislam.com/wp-content/uploads/2010/08/berbagi.jpg" alt="berbagi" width="117" height="124" />Islam adalah agama yang mengatur hidup dan kehidupan manusia. Salah satu ajarannya adalah memberikan jaminan kepada mereka yang membutuhkan biaya atau nafkah dengan cara menyantuninya. Bukan hanya  memberi harta namun juga memberikan <strong>perhatian dan jaminan kehidupan</strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Alloh sangat mencela orang yang tidak memperhatikan kaum fakir, miskin dan anak yatim, serta menghalangi orang untuk menolongnya.</p>
<p style="text-align: left;"><span id="more-851"></span>Menolong masayarakat bawah sebagaimana dianjurkan dalam ayat al-Quran merupakan salah satu dasar dari dasar-dasar dibangunkan ekonomi islam. Mereka yang tidak mampu saharusnya dijamin oleh negara maupun masyarakat. Hal ini dimaksudkan untuk mencapai pemerataan kesejahteraan serta tegaknya keadilan. Sebagaimana Alloh berfirman dalam al-Quran <em>&#8220;Janganlah harta hanya beredar diantara orang yang kaya-kaya saja diantara kamu&#8221;.</em> </p>
<p>Pemerataan dan keadilan yang dimaksud bukanlah rata dalam jumlah, namun rata dalam peredarannya. Untuk itu Islam mewajibkan menunaikan zakat dan shodaqoh, terlebih dengan mengutamakan keluarga atau kerabat yang kurang mampu.</p>
<p>Dari sini, kita semakin tahu bahwa agama islam adalah agama baik. Memberikan kebaikan, kesenangan, dan kenikmatan untuk dunia dan akhirat. Ajarannya tidak ada yang mencelakakan manusia. Tidak ada kemaslahan manusia kecuali dengan sebab islam. Tidak ada agama lain selain Islam yang mengatur penggunaan harta dengan detil. </p>
<p>Namun, kewajiban menyantuni fakir, miskin dan yatim melalui fasilitas zakat dan shodaqoh belumnya berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini disebabkan kebodohan <em>(kejahilan)</em> dalam memahami agama islam. Begitu banyak kemiskinan dan kefakiran, serta anak yatim yang terdholimi di lingkungan di mana kita berada. Sungguh sedikit jumlah orang yang mengeluarkan zakat dibanding jumlah umat islam keseluruhan.</p>
<p>Untuk itu, marilah kita mengamalkan ajaran islam dalam memberikan hak jaminan hidup orang fakir, miskin dan yatim dengan cara <strong>menunaikan zakat dan shodaqoh</strong>.</p>
<p><em>&#8220;Khutbah Jum&#8217;at, 27 Agustus 2010, PT. Toyota Astra Motor, Nanasumber: Abdul Hakim bin Amir Abdat&#8221;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nasehatislam.com/?feed=rss2&amp;p=851</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peran dan Fungsi Ulama</title>
		<link>http://www.nasehatislam.com/?p=844</link>
		<comments>http://www.nasehatislam.com/?p=844#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 06:08:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nasehatislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nasehatislam.com/?p=844</guid>
		<description><![CDATA[Kata ulama adalah bentuk jamak (banyak) dari kata &#8216;alim yang berarti orang berilmu. Secara bahasa yang dimaksud dengan ulama adalah Ulama uddin yakni orang berilmu dalam agama islam. Seperti disebut oleh imam al-gozali dalam judul bukunya Ihya Ulumuddin, yakni menghidupkan ilmu-ilmu agama Islam.
Dalam keseharian kata Din terbiasa dibuang, sehingga cukup menggunakan kata ulama untuk merujuk orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter size-full wp-image-847" title="hamka" src="http://www.nasehatislam.com/wp-content/uploads/2010/08/hamka.jpg" alt="hamka" width="117" height="124" />Kata ulama adalah bentuk jamak (banyak) dari kata &#8216;alim yang berarti <strong>orang berilmu</strong>. Secara bahasa yang dimaksud dengan ulama adalah Ulama uddin yakni orang berilmu dalam agama islam. Seperti disebut oleh imam al-gozali dalam judul bukunya Ihya <strong>Ulumuddin</strong>, yakni menghidupkan ilmu-ilmu agama Islam.</p>
<p><span id="more-844"></span>Dalam keseharian kata Din terbiasa dibuang, sehingga cukup menggunakan kata ulama untuk merujuk orang yang berilmu dalam agama islam.  Maksudnya ia cukup tahu dalam bidang syariah, aqidah, tauhid, al-Qur&#8217;an, dan lain sebagainya. Seseorang yang cukup berilmu dalam hal selain agama islam, maka penyebutannya harus lengkap (disebutkan bidangnya). Misalnya ulama kedokteran, ulama astronomi, ulama rekayasa dan lain sebagainya. </p>
<p>Sebaliknya, seseorang yang cukup berilmu dalam agama islam namun dia bukan muslim, maka statusnya bukanlah ulama namun <strong>ilmuman (Orientalis).</strong> Ulama sangat terikat dengan ilmunya. Punya ilmu namun tidak mengamalkan, maka ia diancam dengan ayat-ayat berdosa besar. Jika orang awam melakukan kesalahan dosanya satu, maka seorang ulama mendapatkan dosa berkali lipat.</p>
<p>Ulama adalah pewaris para nabi. Yang diwarisinya bukanlah harta, namun fungsi dan tugas para nabi. Bahkan kalau disebutkan ada nabi, maka nabi itu adalah ulama. Sungguh tinggi kedudukan ulama setelah kenabian nabi Muhammad. Tugas ulama mengawal aqidah, menegakkan syariah, amal maruf nahi munkar, menjawab pertanyaan dan menentukan hukum yang belum tersurat dalam al-Quran, Hadist dan Tabi&#8217;in.</p>
<p>Di negara Islam seperti  Timur Tengah peran ulama ditangani oleh seorang Mufti. Seorang pejabat negara setingkat menteri yang memberikan  fatwa-fatwa dan mengetuai sekelompok ulama-ulama besar. Karena Indonesia bukanlah negara Islam, maka tidak ada menteri khusus yang mengurusi islam, yang ada hanyalah lembaga Majelis Ulama Indonesia (MUI).  Majelis Ulama Indonesia (MUI) didirikan pada tahun 1975, yang diketuai oleh almarhum Buya Hamka. </p>
<p>Itulah fungsi ulama sebagai pewaris tugas para nabi. Ia adalah kumpulan orang-orang alim yang bertanggung jawab kepada Alloh dalam urusan aqidah dan dakwah islam.</p>
<p><em>&#8220;Kuliah Tarawih 20 Agustus 2010, Mesjid Darussalam Kota Wisata, Narasumber KH Cholil Ridwan, Pengurus MUI Pusat&#8221;<br />
</em></p>
<p>KH Chalil Ridwan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nasehatislam.com/?feed=rss2&amp;p=844</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#Indonesia65: Menjadi Manusia &#8216;Merdeka&#8217;</title>
		<link>http://www.nasehatislam.com/?p=836</link>
		<comments>http://www.nasehatislam.com/?p=836#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 03:57:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nasehatislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kemerdekaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nasehatislam.com/?p=836</guid>
		<description><![CDATA[Bulan ini bangsa Indonesia memperingati kemerdekaan yang ke #65. Dalam usia yang cukup &#8216;dewasa&#8217; ini selayaknya seluruh komponen bangsa mensyukuri nikmat dengan sebenar-benarnya. Setidaknya ada dua dimensi syukur yang harus ada, pertama, mengakui yang memberi nikmat kemerdekaan adalah Alloh SWT dan yang kedua menggunakan nikmat ini dalam rangka taat kepada Alloh SWT.
Sebagaimana para pejuang dahulu, mereka telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter size-full wp-image-841" title="bendera-indonesia" src="http://www.nasehatislam.com/wp-content/uploads/2010/08/bendera-indonesia.jpg" alt="bendera-indonesia" width="117" height="124" />Bulan ini bangsa Indonesia memperingati kemerdekaan yang ke #65. Dalam usia yang cukup &#8216;dewasa&#8217; ini selayaknya seluruh komponen bangsa mensyukuri nikmat dengan sebenar-benarnya. Setidaknya ada dua dimensi syukur yang harus ada, pertama, mengakui yang memberi nikmat kemerdekaan adalah Alloh SWT dan yang kedua menggunakan nikmat ini dalam rangka taat kepada Alloh SWT.</p>
<p><span id="more-836"></span>Sebagaimana para pejuang dahulu, mereka telah mengakui bahwa kemerdekaan yang telah diraih ini atas berkat rahmat Alloh SWT (Pembukaan UUD 1945). Pengakuan yang jujur, bahwa kemerdekaan atau kesuksesan hidup adalah karunia dari Alloh SWT. Lantas, sudahkan kita mensyukuri nikmat ini?</p>
<p>Rasanya, kita masih belum maksimal dalam mewujudkan rasa syukur yang sebenarnya. Kekayaan alam indonesia yang disebutkan oleh seorang pengelana arab, <strong>sebagai surga Alloh di muka bumi</strong>, masih belum dikelola dengan maksimal dan jauh dari harapan. Menjadi tantangan bagi seluruh komponen bangsa untuk berusaha menjadi hamba yang bertaqwa kepada Alloh. Sehingga Alloh menjadikan negeri ini diberkahi dari langit dan bumi.</p>
<p><strong>Menjadi Manusia Merdeka..</strong></p>
<p>Bagaimana islam melihat kemerdekaan yang sesungguhnya?, untuk memahaminya ada baiknya kita menyimak kisah seorang sahabat saat  &#8216;menaklukkan&#8217; sebuah penguasa (musuh). Sang penguasa bertanya, <em>&#8220;Kenapa anda datang kemari?</em>&#8220;, Sahabat itu menjawab, &#8220;<em><strong>Kami datang bukan untuk merampas kekayaan kalian, namun kami datang dengan misi suci yakni memerdekakan umat manusia dari penyembahan kepada selain Alloh</strong></em>.&#8221;</p>
<p>Itulah makna kemerdekaan yang hakikat menurut versi Islam. Yang dimaksud merdeka adalah bebasnya umat manusia dari penyembahan kepada selain Alloh SWT.</p>
<p>Sejarah mencatat, banyak sekali manusia yang menghamba kepada selain Alloh, salah satunya <strong>dunia dan hawa nafsu</strong>. Menjadikan dunia segala-galanya, meyakini dunia dapat mengekalkannya. Dunia mengalahkan ibadah kepada Alloh, dan dunia mendominasi seluruh kehidupan manusia. <em>Mindset</em> yang tumbuh adalah paham <em><strong>sekularisme</strong></em> atau <strong>kedisini kinian</strong>. Mengejar kekayaan (<em>wealth),</em> kekuasaaan <em>(power)</em>, kecantikan<em> (beauty)</em>, dan popularitas <em>(popularity) </em>untuk kepentingan sesaat di dunia, bukan perspektif jauh negeri akhirat. Islam mengajarkan taklukkanlah dunia dan ilmu pengetahun sebagai jalan untuk menuju taqwa, bukan dunia yang mencengkram hati.</p>
<p>Al-quran juga menyebutkan ada sebagian manusia yang menghamba kepada hamba nafsu. Apa yang diinginkan hawa nafsu selalu dituruti. Sehingga al-Quran menyebutkan orang yang demikian akan menjadi hina, bahkan lebih hina dari binatang.</p>
<p>Jadi, ketika manusia masih menghamba kepada selain Alloh, maka hakikatnya dirinya belum merdeka, meskipun secara fisik  telah merdeka dari penjajahan.</p>
<p><em>&#8220;Kuliah Tarawih, 17 Agustus 2010, Mesjid Darussalam Kota Wisata, Narasumber: Ahmad Kusyairi Suhail MA&#8221;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nasehatislam.com/?feed=rss2&amp;p=836</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KULTWEET @komar_hidayat: TENTANG SHOLAT</title>
		<link>http://www.nasehatislam.com/?p=822</link>
		<comments>http://www.nasehatislam.com/?p=822#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 06:19:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nasehatislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nasehatislam.com/?p=822</guid>
		<description><![CDATA[Kata # &#8220;sholat&#8220; mengandung makna doa, pujian, dan ketersinambungan. Dalam sholat ketiga unsur itu hadir saling mendukung. Berwudhu sebelum sholat merupakan conditioning mempersiapkan hati, jiwa dan badan agar bersih, suci, karena hendak menghadap yang Maha Suci. Wudhu sebelum #sholat bukan sekedar bersih badan, lebih penting lagi menyiapkan batin. Ibarat mau menghadap Presiden, wudhu ibarat mengisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter size-full wp-image-827" title="sholat kyusu3" src="http://www.nasehatislam.com/wp-content/uploads/2010/08/sholat-kyusu3.jpg" alt="sholat kyusu3" width="117" height="124" />Kata <span style="color: #000000;"><strong><span style="color: #0000ff;"># &#8220;sholat</span>&#8220;</strong></span> mengandung makna doa, pujian, dan ketersinambungan. Dalam sholat ketiga unsur itu hadir saling mendukung. Berwudhu sebelum sholat merupakan conditioning mempersiapkan hati, jiwa dan badan agar bersih, suci, karena hendak menghadap yang Maha Suci. Wudhu sebelum <strong><span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong> bukan sekedar bersih badan, lebih penting lagi menyiapkan batin. Ibarat mau menghadap Presiden, wudhu ibarat mengisi buku tamu.</p>
<p><span id="more-822"></span>Ada baiknya ada tempat <strong><span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong> khusus sehingga lebih terasa sebagai peristiwa audiensi sangat istimewa padaNya dengan meninggalkan pekerjaan rutin.</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong> diawali dengan takbiratul ihram. Artinya &#8220;mengharamkan&#8221; atau meninggalkan segala urusan karena hendak &#8220;memuliakan&#8221; Allah. Hanya fokus padaNya. Banyak faktor why orang melakukan<strong> <span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong>. Ada unsur perintah agama, tekanan lingkungan, kebutuhan, mungkin juga ada yang rindu pada Tuhan.</p>
<p>Jika <strong><span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong> dilakukan secara meditatif  dan disiplin, pasti dampaknya sangat besar, mengangkat seseorang ke level kesadaran lebih tinggi dalam hidupnya. <strong><span style="color: #0000ff;">#Sholat</span></strong>, sebagaimana ibadah lain, baru bermakna kalau berdampak pada kesalehan sosial, peduli pada fakir miskin dan mereka yang tertindas &amp; terzalimi</p>
<p>Ditegaskan dalam Alquran 107, orang rajin sholat tapi tidak peduli pada yatim piatu dan fakir miskin divonis sebagai memper-olok2 atau mendustakan agama.</p>
<p>Ketika <strong><span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong> kita menggunakan berlapis bahasa. Yang terucap bahasa Alqur&#8217;an, tapi hati, pikiran menggunakan bahasa ibu, tubuh menggunakan bahasa performative. Di beberapa tempat masih terjadi rebutan masjid, tempat <strong><span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong>, karena pengaruh mazhab dan ideologi keagamaan.</p>
<p>Menurut Rasulullah, pada dasarnya bumi ini adalah masjid, tempat sujud, sholat, apapun yang dilakukan sebagai upaya dekat dan terhubung dengan Tuhan. <strong><span style="color: #0000ff;">#Sholatnya</span></strong> orang sufi seperti orang pacaran dengan Tuhannya, asyik melampiaskan rindu, enggan mengakhiri perjumpaannya.</p>
<p>Meski tidak selalu khusyuk, mendisiplinkan <strong><span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong> pasti sangat bermanfaat. Yg pasti untuk melancarkan sirkulasi darah dan rileksasi mental.  <strong><span style="color: #0000ff;">#Sholat</span></strong> berjamaah bagi keluarga akan jadi pengikat keharmonisan &amp; sumber berkah, juga memperkecil konflik.</p>
<p>Sehabis <strong><span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong> berjamaah sangat bagus ada kultum tentang apa saja, sebaiknya digilir diantara anggota keluarga. Bagus bagi pendidikan anak, setelah <strong><span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong> anak yang mimpin berdoa bergantian, bisa baca atau hafalan, diamini bersama-sama secara khusyuk.</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">#Sholat</span></strong> akan menghubungkan seseorang dengan energi-energi positif semesta yang menebarkan keberkahan, agar diteruskan ke sesama manusia, bukannya menghakimi.</p>
<p>Dari sekian banyak perintah/ajaran Islam, adalah sholat yang wajib dilakukan setiap hari berulang-ulang. Pasti menyimpan banyak rahasia dan hikmah. Setiap saat Allah mendengarkan doa hambaNya. Tapi mengapa <strong><span style="color: #0000ff;">#shol</span>at</strong> ditentukan waktunya? Pasti ada maksud dibalik penetapan waktu itu. </p>
<p>Waktu <strong><span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong> berkorelasi dengan ritme jam badan &amp; titik kordinat garis edar posisi bumi dengan posisi matahari. Ini sangat menarik diteliti secara ilmiah.</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">#Sholat</span></strong> dalam arti ketersinambungan &amp; kepasrahan pada Tuhan bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, karena bumi adalah masjid.</p>
<p>Perintah<strong> <span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong> 5 waktu diwajibkan tahun ke-11 kenabian. Ini sering jadi pertanyaan, apakah seorang muallaf langsung wajib sholat atau belajar dulu? . Sebelum <strong><span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong> 5 waktu diwajibkan Rasul sudah diperintah melakukan sholat malam (Alqur&#8217;an 73:1-9).</p>
<p>Perintah<strong> <span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong> juga diterima oleh nabi Ibrahim dan keturunanya (Alqur&#8217;an 14: 37,40). Demikian juga Nabi Musa &amp; Harun diperintahkan sholat oleh Tuhan (Alqur&#8217;an 10:87). Nabi Daud dan Zakaria juga diperintah mendirikan sholat (Alqur&#8217;an 3:39). Nabi Isa atau orang Barat menyebut Jesus juga diperintah <strong><span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong> (Alqur&#8217;an 19: 30-33).</p>
<p>So, perintah <strong><span style="color: #0000ff;">#sholat</span> </strong>sudah dikenal &amp; dipraktekkan para Rasul Tuhan sebelum Muhammad sebagaimana juga berpuasa. Esensinya sama karena datang dari Tuhan yang sama.  Hanya saja syariat Tuhan dan caranya mengalami perkembangan, mungkin disesuaikan dengan konteks umatnya.</p>
<p>Saya sendiri pernah ke Jerussalem melihat umat Yahudi melakukan <strong><span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong>, mirip sujud di dalam sholatnya umat Islam. Gerakan <strong><span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong> yang mendekati adl sholatnya Kristen Ortodoks Timur. Bacaannya menggunakan Injil bahasa Arab, layaknya bunyi Alqur&#8217;an.</p>
<p>Ketika <strong><span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong>, jadikan hatimu sebagai kiblat lidahmu. Jangan engkau gerakkan lidahmu kecuali atas aba-aba hatimu. (Sabda Rasul).<span style="color: #0000ff;"> <strong>#Sholat</strong></span> belum sempurna sebelum dilanjutkan membayar zakat, bagi yg mampu (Alqur&#8217;an 2:110, 19:55, 19:31).</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">#Sholat</span></strong> adalah percakapan paling dalam dan paling mesra antara pencinta dan yang dicinta (Rumi). Ketika <strong><span style="color: #0000ff;">#sholat</span></strong> rasakan surga didepanmu, neraka di bawah kakimu para nabi di kananmu malaikat di kirimu Izrail di belakangmu Allah mngawasi dari atasmu. (Hadist)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nasehatislam.com/?feed=rss2&amp;p=822</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Orang Serakah</title>
		<link>http://www.nasehatislam.com/?p=816</link>
		<comments>http://www.nasehatislam.com/?p=816#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 05:58:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nasehatislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Harta Kekayaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nasehatislam.com/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[Diceritakan dalam suatu riwayat di zaman nabi Isa as, ada tiga orang laki-laki memperoleh peta petunjuk harta karun. Ketiga laki-laki ini sangatlah berambisi untuk mendapatkan harta karun, agar menjadi orang kaya.  Lokasi harta karun sangatlah jauh dari tempat tinggal mereka, harus ditempuh melewati lembah, gunung, dan sungai. Dengan niat yang kuat, ketiga orang ini bertekad bahu membahu agar bisa mendapatkan harta karun tersebut.
Setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter size-full wp-image-818" title="serakah" src="http://www.nasehatislam.com/wp-content/uploads/2010/08/serakah.jpg" alt="serakah" width="117" height="124" />Diceritakan dalam suatu riwayat di zaman nabi Isa as, ada tiga orang laki-laki memperoleh peta petunjuk harta karun. Ketiga laki-laki ini sangatlah berambisi untuk mendapatkan harta karun, agar menjadi orang kaya.  Lokasi harta karun sangatlah jauh dari tempat tinggal mereka, harus ditempuh melewati lembah, gunung, dan sungai. Dengan niat yang kuat, ketiga orang ini bertekad bahu membahu agar bisa mendapatkan harta karun tersebut.</p>
<p><span id="more-816"></span>Setelah melakukan persiapan dan mempelajari peta dengan seksama, berangkatlah ketiga orang ini menuju lokasi sesuai petunjuk peta. Mereka saling memberi semangat melewati tantangan demi tantangan. Tatkala salah seorang dari mereka kecapaian, yang lainnya membesarkan hati agar bersabar karena sebentar lagi akan sampai di lokasi harta karun.</p>
<p>Sesampainya di tempat tujuan, mereka bertiga membongkar tanah dan ternyata memang benar harta karun emas yang diidam-idamkan, ada didepan mata. Mereka sangat gembira karena sebentar lagi akan menjadi orang kaya.</p>
<p>Selanjutnya merekapun beristirahat dan menyusun strategi untuk mengambil dan membawa harta karun dengan aman, dan terhindar dari perampok selama perjalanan. Mereka memutuskan untuk berjalan di malam hari tanpa henti sampai desa tempat tinggal. Untuk itu, mereka perlu mempersiapkan bekal makanan yang cukup agar tidak kelaparan selama di perjalanan. Setelah diskusi cukup panjang, mereka saling berbagi tugas, dua orang menjaga lokasi harta karun dan satu orang lagi mencari perbekalan makanan.</p>
<p>Pergilah satu orang yang bertugas mencari makanan ke kampung terdekat. Saat membeli makanan, hatinya berkata, <em><strong>&#8220;Sayang sekali kalau harta karun itu dibagi tiga, coba kalau saya saja yang mendapatkannya, pasti saya akan menjadi orang terkaya&#8221;</strong></em>. Tanpa berpikir panjang, orang ini mencampurkan racun pada makanan yang akan dikasih ke dua temannya. Harapannya dua temannya akan mati, sehingga otomatis dia sendiri yang mendapatkan harta karun itu.</p>
<p>Sementara itu, dua orang yang menunggu di lokasi harta karun, juga berembug dan tergoda. Mereka bicara <em><strong>&#8220;Sayang kalau harta ini kalau dibagi tiga. Seandainya dibagi dua, maka kita berdua akan menjadi terkaya di desa&#8221;.</strong></em> Mereka memutuskan untuk membunuh teman yang membawa makanan dengan memukulkan batang pohon.</p>
<p>Kedua orang  ini selanjutnya bersembunyi di balik pohon menunggu teman yang membawa makanan tiba. Dan ketika yang ditunggu tiba, langsung saja mereka pukul dengan batang pohon sampai akhirnya mati.</p>
<p>Sungguh bahagia kedua orang ini, karena hanya mereka berdualah yang akan memperolah harta karun itu. Singkat cerita, mereka pun lantas makan makanan yang sudah dibawa temannya. Namun apa dikata, karena makanan itu sudah beracun, kedua orang ini pun akhirnya mati juga&#8230;<em><strong>sungguh ironis&#8230;</strong></em></p>
<p>Itulah penggalan cerita yang menggambarkan sifat keserakahan manusia atas harta atau materi. Sifat nafsu dan serakah pada akhirnya membawa kepada sifat permusuhan dan kerugian. Harta karun yang harusnya bisa dibawa dan dibagi sama rata bertiga, akhirnya tidak bisa dinikmati, malah kematian yang didapat.</p>
<p><em>&#8220;Ceramah Shubuh, 14 Agustus 2010,  Mesjid Darussalam Kota Wisata, Narasumber: Ust. Drs. H. Aseph Aonuddien MSi&#8221;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nasehatislam.com/?feed=rss2&amp;p=816</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Feel Inspiring Romadhan&#8230;</title>
		<link>http://www.nasehatislam.com/?p=798</link>
		<comments>http://www.nasehatislam.com/?p=798#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 02:25:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nasehatislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puasa Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nasehatislam.com/?p=798</guid>
		<description><![CDATA[Romadhan adalah puncak pembersih dan pengikis dosa diri. Sahabat zaman dahulu selalu merindukan datangnya romadhan bahkan dua bulan sebelumnya. Ada banyak hikmah dan keutamaan Romadhan agar memberi motivasi dan inspirasi dalam menjalaninya. Berikut salah satunya:
#1. Bulan Kesungguhan
Kunci sukses dalam islam untuk meraih kebahagiaan dunia akhirat adalah kesungguhan (QS 29:69). Output dari puasa adalah taqwa, dan karakter taqwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter size-full wp-image-811" title="happy puasa" src="http://www.nasehatislam.com/wp-content/uploads/2010/08/happy-puasa5.jpg" alt="happy puasa" width="117" height="124" />Romadhan adalah puncak <strong>pembersih </strong>dan <strong>pengikis dosa</strong> diri. Sahabat zaman dahulu selalu merindukan datangnya romadhan bahkan dua bulan sebelumnya. Ada banyak hikmah dan keutamaan Romadhan agar memberi <strong>motivasi</strong> dan <strong>inspirasi</strong> dalam menjalaninya. Berikut salah satunya:</p>
<p><strong><span id="more-798"></span><em>#1. Bulan Kesungguhan</em></strong></p>
<p>Kunci sukses dalam islam untuk meraih kebahagiaan dunia akhirat adalah kesungguhan (QS 29:69). Output dari puasa adalah taqwa, dan karakter taqwa hanya bisa dibangun dengan <strong>sungguh-sungguh</strong>. Umar r.a ketika ditanya apa arti taqwa, ia menjawab, &#8220;<em>Saat engkau berjalan di suatu jalan yang bertaburan duri, engkau berhati-hati melangkah menghindari duri itu, itulah hakikat  TAQWA&#8221;</em>.</p>
<p><strong><em>#2. Bulan al-Quran</em></strong> </p>
<p>Bulan Romadhan harus memberikan inspirasi mengkaji al-Quran. Sebagaimana rosul mengulang bacaan al-Quran (Tadarus) setiap malam bersama malaikat Jibril.  Al-Quran memiliki banyak keistimewaan, ia merupakan dzikir utama dan mampu mengobati hati yang gelisah. Siapa yang berpaling dari al-Quran, niscaya hatinya gelisah meskipun tinggal di istana.</p>
<p><strong><em>#3. Bulan Ibadah</em></strong></p>
<p>Pandai-pandailah untuk memaksimalkan ibadah di bulan Romadhan. Seseorang yang pernah melakukan dosa dan kejahatan, janganlah berputus asa. Begitupula orang yang merasa telah melakukan kebaikan jangan berpuas diri. Rosul memberi teladan bagaimana dia melakuan ibadah terbaik sampai kakinya bengkak. Bersyukurlah jika diberi kemudahan melakukan kebaikan, dan segera bertaubatlah jika diberi kemudahan melakukan maksiat.  Semua orang dimudahkan Alloh sesuai dengan taqdirnya. Pergunakan waktu mustajab di bulan puasa untuk berdoa menjadi <em>Khusnul Khotimah</em>.</p>
<p><strong><em>#4. Bulan Perbaikan Karakter </em></strong></p>
<p>Romadhan harus menjadi bulan memperbaiki akhlaq. Jadikan diri menjadi sumber kesenangan dan kebahagiaan orang sekitar. Tinggalkan akhlaq yang hina dan lakukan akhlaq yang mulia. Tinggalkan hal-hal yang jorok, berbuat marah, dusta, dan lain-lain. Sebaliknya perbanyak sedekah, peduli anak yatim, tetangga, dan lain sebagainya.</p>
<p><strong><em>#5. Bulan Pelurusan Aqidah</em></strong></p>
<p>Jangan salah menapaki jalur rel aqidah. Berhati-hatilan dengan ramalan-ramalan yang sedang<em> trend</em> saat ini. Tidak boleh sembarang percaya pada tanda alam yang dihubungkan dengan takdir. Dalam islam tidak ada hubunga antara tanda alam dengan takdir seseorang.</p>
<p><em>&#8220;Pengajian Tarawih, 13 Agustus 2010, Mesjid Darussalam Kota Wisata, Narasumber: Ust. Mirdas Eka Yora Lc.&#8221;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nasehatislam.com/?feed=rss2&amp;p=798</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Kehilangan Momentum Romadhan</title>
		<link>http://www.nasehatislam.com/?p=788</link>
		<comments>http://www.nasehatislam.com/?p=788#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2010 03:16:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nasehatislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puasa Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nasehatislam.com/?p=788</guid>
		<description><![CDATA[Berbahagialah hati orang yang beriman karena tahun ini masih dikarunia usia untuk menjalani ibadah Romadhan. Sungguh kita tidak mengetahui apakah Romadhan tahun ini adalah Romadhan terakhir atau bukan?. Orang yang memiliki keimanan tentunya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Romadhan berarti panas atau membakar kesalahan. Maknanya agar kita bisa memulai hidup seperti terlahir kembali (fitrah). Tiada permintaan yang paling utama yang seyogianya diminta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter size-full wp-image-795" title="marhaban_yaa_ramadhan_" src="http://www.nasehatislam.com/wp-content/uploads/2010/08/marhaban_yaa_ramadhan_1.jpg" alt="marhaban_yaa_ramadhan_" width="117" height="124" />Berbahagialah hati orang yang beriman karena tahun ini masih dikarunia usia untuk menjalani ibadah Romadhan. Sungguh kita tidak mengetahui apakah Romadhan tahun ini adalah Romadhan terakhir atau bukan?. Orang yang memiliki keimanan tentunya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.</p>
<p><span id="more-788"></span>Romadhan berarti <strong>panas atau membakar kesalahan</strong>. Maknanya agar kita bisa memulai hidup seperti terlahir kembali <em>(fitrah).</em> Tiada permintaan yang paling utama yang seyogianya diminta oleh setiap insan selain pengampunan atas dosa dan kesalahan dari Alloh SWT. Dan Romadhan memberikan kesempatan mendapatkannya. Kalau diibaratkan komputer, Romadhan seperti melakukan RESET agar kembali ke <em>default</em> semula.</p>
<p>Romadhan adalah bulan penuh berkah dan manfaat. Siapa saja yang hatinya tidak buta, ia akan menemui banyak kebaikan. Output yang didapatkannya adalah taqwa atau puncak kesempurnaan manusia di hadapan Alloh.</p>
<p>Untuk itu marilah kita memanfaatkan momentum Romadhan kali ini dengan cara memperkuat <strong>rasa takut</strong> kepada Alloh, <strong>belajar</strong> agar tidak melakukan apapun kecuali atas perintah al-Quran dan Hadits, jadilah orang yang <strong>puas </strong>dengan pemberian Alloh walau sedikit, persiapkan bekal untuk kematian dan perbaharui niat murni dan tulus karena Alloh SWT.</p>
<p><em>(Pengajian Tarawih, 12 Agustus 2010, Mesjid Kota Wisata Cibubur, Narasumber: Bachtiar Natsir Lc)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nasehatislam.com/?feed=rss2&amp;p=788</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
